Filosofi Berzanji Atau Barzanji
di Negeri Hitu
Kerajaan
Tanah Hitu adalah sebuah kerajaan Islam yang terletak di Pulau Ambon, Maluku.
Kerajaan ini memiliki masa kejayaan antara 1470-1682 dengan raja pertama yang
bergelar Upu Latu Sitania (raja tanya) karena Kerajaan ini didirikan
oleh Empat Perdana yang ingin mencari tahu faedah, baik Faedah Islam di Maluku.
Pembangunan
yang digalakan pemerin-tah Negeri Hitu selama ini, telah
menyeba"bkan terjadinya perubahan dalam masyarakat, baik berupa perubahan
sosial (social changes) maupun perubahan kebudayaan (cultural changes).
Perubahan sosial dapat mencakup perubahan-perubahan dalam struktur sosial atau
pola-pola lingkungan sosial, yang antara lain meliputi; sistem status,
hubungan-hubungan dalam keluarga, sistem-sistem politik dan kekuatan,
persebaran penduduk, dan sebagainya. Sedangkan perubahan kebudayaan adalah
perubahan-perubahan yang terjadi dalam sistem ide yang dimiliki bersama oleh
para warga, atau oleh sejum-lah warga masyarakat yang bersangkutan. Misalnya,
menyangkut aturan-aturan atau norma-norma yang menjadi pegangan dalam kehidupan
masyarakat, nilai-nilai moral dan agama, teknologi, seni dan estetika, bahasa dan
sebagainya. Karena kedua bentuk perubahan ini senantiasa kait berkait, maka muncullah
perubahan-perubahan yang mencakup kedua aspek tersebut, sosial, budaya dan
agama.
SEPUTAR KITAB BARZANJI
Berjanji atau Barjanji merupakan do'a-do'a atau pujian-pujian yang menceritaan tentang perjalanan Nabi atau Riwatat Nabi Muhammad SAW yang di lafazkan suatu irama. Sedangkan Penjelasan lain Nama Berzanji diambil dari nama pengarangnya yaitu Syekh Ja'far al-Barzanji bin Hasan bin Abdul Karim. Ia lahir di Madinah tahun 1690 dan meninggal tahun 1766. Barzanji berasal dari nama sebuah tempat di Kurdistan, Barzinj. Karya tersebut sebenarnya berjudul 'Iqd al-Jawahir (Bahasa Arab, artinya kalung permata) yang disusun untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad saw, meskipun kemudian lebih terkenal dengan nama penulisnya.
Pembacaan Berzanji pada umumnya
dilakukan oleh kaum pria pada berbagai kesempatan, sebagai sebuah pengharapan
untuk pencapaian sesuatu yang lebih baik. Misalnya pada saat kelahiran bayi,
mencukur rambut bayi (akikah), acara khitanan, pernikahan, dan upacara lainnya.
Di masjid-masjid perkampungan, biasanya orang-orang duduk bersimpuh melingkar.
Lalu seseorang membacakan Berzanji, yang pada bagian tertentu disahuti oleh
jemaah lainnya secara bersamaan.
Kitab
tersebut nama aslinya bertajuk ‘Iqd al-Jawhar fî Mawlid an-Nabiyy al-Azhâr”,
yang disusun untuk meningkatkan cinta kepada Rasulullah saw., yang selanjutnya
lebih terkenal dengan nama penulisnya, yakni kitab Maulid al-Barzanji.
Kitab
ini sangat tepat disebut sebagai karya sastra ketimbang karya sejarah, karena
lebih menonjolkan aspek keindahan bahasa. Kitab ini terdiri dari dua bagian;
prosa dan puisi. Keduanya berisi penuturan riwayat hidup nabi Muhammad saw.
teristimewa menyangkut rangkaian peristiwa kelahiran beliau. Kitab Maulid
al-Barzanji adalah salah satu kitab maulid yang paling populer dan paling luas
tersebar ke pelosok negeri Islam. Kandungannya merupakan intisari Sirah
Nai yang meliputi kisah kelahirannya, pengutusannya menjadi rasul, hijrah,
akhlaq, peperangan hingga wafatnya; yang tercakup dalam lima bahasan utama;
Kitab
Maulid Al-barzanji juga menceritakan keagungan akhlak dan kemampuan politik
Muhammad secara indah. Penggunaan bahasa-bahasa puitik dalam pengisahan sejarah
nabi menciptakan suasana mistis dan membangkitkan semangat pembacanya. Bagi
yang mengerti bahasa Arab fushah, akan merasakan betul betapa sang
pengarang sangat terpukau dengan keagungan akhlak sosok Muhammad. Karena pesona
itulah penulis acap kali menyebut Rasulullah saw dalam sapaan-sapaan bahasa
kosmik seperti ”Wahai Engkau Sang Mentari, Wahai Engkau Sang Rebulan, Wahai
Engkau Cahaya di atas Cahaya dan sebagainya“.
Barjanji pada umumnya sudah dinkenal
sejak dahulu oleh kalangan muslim. Terkusus pembacaan barjanji di Negeri Hitu,
barjanji itu sudah sering di bacakan oleh kalangan orang tua pada Masa-masa
sebelumnya, seiring dengan perkembangan jaman, Barjanji yang ada pada negeri
Hitu semakin menghilang, di karenakan banyak orang tua-tua yang terdahulu yang
memahami tentang pembacaan barjanji telah Tiada ( Meninggal ). hal itu
mengakibatkan banyak kesadaran dari Generasi anak muda yang melupakan tentang
apa itu barjanji dan makna dari barjanji itu sendiri.
Sementara yang perlu kita ketahui
tentang Legitimasi historis tentang simbol keterikatan masyarakat Hitu
terhadap lektur Al-Qur'an dan Berzanji, yang secara tradisional dipertahankan. Pembauran
antara kepercayaan lokal yang bersifat tradisional dengan ajaran Islam masih
mewarnai nilai-nilai yang dianut masyarakat Negeri Hitu, yang pada umumnya menganut
Agama Islam. Aspek-aspek keagamaan dalam kehidupan sosial masyarakat, adalah menjalin
hubungan dengan Allah Tuhan Pencipta dalam bentuk ibadah serta pelaksanaan
upacara-upacara, upacara tolak bala dan upacara keagamaan. Dalam kehidupan
sehari-hari, masya-rakat masih terikat sistem norma dan adat yang masih
diindahkan dan dipatuhi, dan dalam kehidupan beragama, mereka menggantungkan
diri pada tokoh agama dan pemimpin mereka. Dalam masyarakat Negeri Hitu, masih
banyak ditemukan nilai-nilai dan tradisi yang menjadi kebudayaan yang dapat
dikembangkan dalam rangka membentuk menusia yang utuh, sehingga kondisi
kultural masyarakat akan lebih bermakna sebagai potensi pem-bangunan. Upacara-upacara
tradisional hendaknya diramai dengan ajaran Islam, untuk itu perlu adanya
bimbingan dakwah yang mampu mengajak masyarakat untuk bertindak lebih rasional.
Maka partisipasi aktif pemuka agama dibutuhkan untuk melestarikan kebudayaan
disertai peningkatan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Komentar
Posting Komentar